Loading…

perempuan di pinggir halaman

gabinary
Publik 20 percakapan 28 pikiran 40 suara positif 0 suara negatif 1 seri

“Kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah, lalu kenapa yang menangis hanya aku?”

In groups

Pikiran

Pikiran

Nurul92

Aku senang kamu marah di cerita itu, terus marah di cerita nyata ini juga. Saat kamu bilang perempuan lain itu "hanya menjadi klimaks klise", aku rasakan betul kamu udah tahu kamu berhak kesal. Tapi masih aja kamu nanya ke Gabina. Mungkin Gabina pun gak t

Aku senang kamu marah di cerita itu, terus marah di cerita nyata ini juga. Saat kamu bilang perempuan lain itu "hanya menjadi klimaks klise", aku rasakan betul kamu udah tahu kamu berhak kesal. Tapi masih aja kamu nanya ke Gabina. Mungkin Gabina pun gak tahu jawabannya, tapi setidaknya kamu udah ngomong.

Konten postingan

“Kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah, lalu kenapa yang menangis hanya aku?”

Hi, Gabina.

Sedikit canggung, namun sebanyak itu aku ingin menulis. Dan uhm, aneh, ya? Haha. Kau tahu, rasanya patah hati terus-menerus datang kepadaku. Sampai-sampai aku mulai terbiasa menghela napas, seolah patah hati hanyalah kebosanan rasa yang terus mengetuk pintu hatiku, lagi dan lagi.

Aneh rasanya jika aku bersikap biasa saja. Namun yang lebih aneh, aku mulai akrab dengan rasa nyeri itu. Aku pikir kamu lebih memahami rasa kesal dan campur aduk daripada siapa pun. Aku tahu, terkadang pikiran-pikiran buruk datang menghantui kita, membuat kepala menjadi terlalu ramai hingga kita berhenti berpikir dengan tenang.

Tapi sejak kapan, ya, tenang selalu menjadi penyembuh?

Apakah sebagai manusia kita tidak boleh mengamuk, meronta, atau bahkan memukul dinding karena marah? Apakah setiap luka harus diterima dengan kepala dingin, seolah-olah perasaan yang terluka adalah sesuatu yang memalukan?

Mengingat waktu lalu, aku berusaha untuk baik-baik saja. Namun kau tahu, Gabina, perempuan yang cemburuan itu adalah aku sendiri. Aku rasa aku terus mencari alasan mengapa lelaki itu tidak memilihku. Terus bertanya-tanya apa yang kurang dariku, apa yang salah dariku, atau apa yang sebenarnya dimiliki perempuan itu hingga akhirnya ia menjadi seseorang yang dipilih.

Padahal berkali-kali aku mengingatkan hatiku bahwa tidak ada yang salah antara aku dan gadis manis itu. Tidak ada yang perlu dibenci. Kami hanya berdiri pada waktu yang sama. Dan buruknya, mungkin itulah kutukannya.

Mungkin di sudut hatiku atau memang di seluruh hatiku, aku ingin dipilih. Aku ingin selalu dipilih meski hanya sekali. Ah, betapa menyebalkan dan memalukan perasaan itu, ketika aku mengingatnya. Aku bahkan kesal pada diriku sendiri karena masih menginginkan sesuatu yang mungkin memang tidak pernah menjadi milikku. Dan lagi-lagi aku menangis, seolah patah hati datang menghampiri berkali-kali tanpa pernah benar-benar pergi.

Lalu aku terpaku pada sebuah pemikiranku oleh cerita dengan sudut yang sama.

Kau tahu, Gabina, rasanya seperti aku adalah seorang pembaca yang tanpa sadar memosisikan diriku sebagai “perempuan lain” dalam sebuah kisah yang sejak awal memang bukan tentangku.

Kisah mereka indah. Dua orang yang berteman sejak kecil, tumbuh bersama, lalu jatuh cinta ketika dewasa. Tokoh utama laki-laki yang ternyata telah menyukai tokoh utama perempuan sepanjang hidupnya.

Namun di tengah perjalanan, ketika tokoh utama perempuan masih memiliki kekasih, lelaki itu bertemu dengan perempuan lain. Seseorang yang menemaninya. Seseorang yang menghabiskan waktu bersamanya metika perempuan yang sebenarnya ia cintai belum bisa menjadi miliknya. Dan mungkin, selama waktu itu, perempuan lain tersebut mulai percaya bahwa ia memiliki tempat.

Lalu ketika tokoh utama perempuan akhirnya sendiri, tokoh utama laki-laki langsung mengejarnya. Seolah perempuan lain itu bisa begitu saja diletakkan begitu saja seperti piring kotor. Seolah setiap makan malam mereka hanyalah jeda. Seolah semua waktu yang pernah dihabiskan bersama tidak pernah benar-benar berarti.

Lalu, Gabina... Apakah perempuan lain itu tidak berhak marah meski tokoh utama perempuannya sangat, sangat, sangat manis pada saat itu. Meski ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Meski pada akhirnya mereka memang terlihat seperti dua orang yang seharusnya bersama. Apakah itu membuat perempuan lain tidak berhak merasa terluka? Apakah salah merasa bersedih karena akhirnya menyadari bahwa ternyata dirinya hanya seseorang yang hadir di antara dua orang yang sejak awal memang saling menemukan?.

Mungkin yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang hanya menjadi klimaks klise dalam kisah percintaan orang lain. Dan hadir untuk membuat tokoh utama sadar siapa yang sebenarnya ia cintai. Lalu setelah tugasnya selesai, ia disingkirkan dari cerita.

Gabina, kalau dia tidak salah, dan aku juga tidak salah... Lalu kenapa yang menangis hanya aku?

Kabar buruknya, Gabina...

ini bukan kisah fiksi yang bisa kututup ketika aku tidak menyukai akhirnya.

Dan kenapa yang menangis hanya aku, Gabina?

Thoughts

  • Nurul92

    Aku senang kamu marah di cerita itu, terus marah di cerita nyata ini juga. Saat kamu bilang perempuan lain itu "hanya menjadi klimaks klise", aku rasakan betul kamu udah tahu kamu berhak kesal. Tapi masih aja kamu nanya ke Gabina. Mungkin Gabina pun gak tahu jawabannya, tapi setidaknya kamu udah ngomong.

    Permalink
  • IntanKarlina

    'Seolah setiap makan malam mereka hanyalah jeda.' Aku terpukul banget. Waktu yg dikira berarti jadi cuma pelipis cerita orang lain.

    Permalink
  • Arif_Malam

    Dua-duanya gak salah tapi cuma satu yang kesakitan. Dunia itu memang kayak gitu, gak adil, gak punya logika yang masuk akal.

    Permalink
  • pak_de_cerita

    Yang menyakitkan itu bukan cintanya hilang, malah sebaliknya, dia tahu kamu benar-benar ada, tapi memilih menganggapnya jeda. Waktu kamu cuma nilai tempat duduk, bukan orang. Apakah kamu pernah bilang ke dia apa yang kamu rasain? Atau cuma diam karena khawatir dia marah?

    Permalink
  • mampirBentar

    ini bikin aku kepikiran, ternyata cuma aku yg mikir cerita cinta harus manis2 doang. gak ada versi nyata yg ada yg nangis

    Permalink
  • haryoSetiawan

    Kebanyakan orang bilang 'lama-lama akan hilang', tapi nggak, ya? Kayak patah hati itu bukan sesuatu yang bisa diekskus dari hidup. Tetap ada di sudut.

    Permalink
  • dwi_tanya_terus

    Waktu itu kamu berapa lama nge-percaya kalau ada tempatku? Atau dari awal udah tahu tapi mikir biar berharap sampai ujung cerita?

    Permalink
  • bunda_di_teras

    Sakit banget, emang. Aku baca punya putri tetangga kayak gini, jadi kangen cemen sama dia. Semuanya benar tapi tetap sakit, ya.

    Permalink