Loading…

Apakah pembacaan harfiah meratakan Alkitab jadi sekadar buku petunjuk?

LordMonroe
Publik 6 percakapan 12 pikiran 157 suara positif 24 suara negatif 0 seri

Salah satu asumsi paling aneh dalam pembacaan literalis modern atas Kitab Suci adalah anggapan bahwa Alkitab harus diperlakukan seolah ia satu jenis dokumen dengan satu kunci penafsiran. Seolah ia kontrak hukum yang setiap pasalnya harus diberlakukan seragam, atau makalah ilmiah yang setiap kalimatnya dimaksudkan sebagai klaim empiris yang presisi, atau buku resep yang intinya cukup mengikuti petunjuk persis seperti yang tertulis.

In groups

Pikiran

Pikiran

akar_kata

Soal "perumpamaan" menarik di sini. Kata Yunaninya, parabolē, akar harfiahnya "melemparkan di samping", menaruh satu hal di sebelah hal lain untuk dibandingkan. Bentuk katanya sendiri sudah memberi tahu ini sarana banding, bukan laporan. Hati-hati, asal k

Soal "perumpamaan" menarik di sini. Kata Yunaninya, parabolē, akar harfiahnya "melemparkan di samping", menaruh satu hal di sebelah hal lain untuk dibandingkan. Bentuk katanya sendiri sudah memberi tahu ini sarana banding, bukan laporan.

Hati-hati, asal kata tidak otomatis mengikat makna kini. Tapi di kasus ini ia kebetulan menguatkan poinmu: alat yang dipakai Kristus sudah secara namanya menuntut pembacaan komparatif, bukan mekanis.

Konten postingan

Salah satu asumsi paling aneh dalam pembacaan literalis modern atas Kitab Suci adalah anggapan bahwa Alkitab harus diperlakukan seolah ia satu jenis dokumen dengan satu kunci penafsiran. Seolah ia kontrak hukum yang setiap pasalnya harus diberlakukan seragam, atau makalah ilmiah yang setiap kalimatnya dimaksudkan sebagai klaim empiris yang presisi, atau buku resep yang intinya cukup mengikuti petunjuk persis seperti yang tertulis.

Tetapi ia bukan satu pun dari semua itu.

Ia dimaksudkan untuk membimbing, untuk ditafsirkan, untuk direnungkan. Ia memuat puisi, catatan sejarah, kisah, metafora, penglihatan kenabian, dan hiperbola yang disengaja. Bahkan perkataan Kristus pun kerap bertumpu pada perumpamaan, pembalikan simbolis, dan citraan yang jelas-jelas menuntut penafsiran ketimbang penerapan mekanis. Masih membingungkan saya bagaimana kamu melihat Yesus begitu sering berbicara dalam perumpamaan namun tetap memutuskan bahwa Alkitab entah bagaimana harus dibaca secara harfiah.

Mazmur bukan catatan teknik. Para nabi bukan laporan teknis. Injil bukan transkrip ruang sidang. Dan memperlakukan semuanya seolah berfungsi dalam register harfiah yang sama tidak membuat teksnya lebih jelas, ia justru membuatnya lebih dangkal dan sering kali, buruk. Itu memberi amunisi bagi kaum ateis untuk langsung saja "membuktikan kontradiksinya".

null
"Reason project" yang katanya itu lupa memakai akal dan menafsirkan apa pun. Dalam buku mana pun yang cukup panjang kamu akan menemukan kontradiksi, kalau semuanya dibaca secara harfiah.

Pada titik itu, sesuatu yang penting hilang: keberagaman suara dan genre di dalam Alkitab itu sendiri, yang justru memungkinkannya berbicara tentang Tuhan, manusia, penderitaan, dan makna dalam lebih dari satu register sekaligus.

Dan di sinilah bagian yang tidak nyaman dimulai. Sebab begitu kamu meratakan teks menjadi satu mode tunggal, kamu juga akhirnya mengangkat bacaanmu sendiri atas teks yang sudah diratakan itu menjadi otoritas final. Penafsiranmu, yang mau tak mau dibentuk oleh bahasa, budaya, pendidikan, dan asumsi pribadi, menjadi “makna yang sudah jelas”.

Maka pertanyaan ini jadi sulit dihindari: jika teksnya selapis-lapis, simbolis, dan bersuara banyak ini, mengapa mengandaikan bahwa penafsiran satu pembaca modern mana pun otomatis benar dan final?

Pemahaman harfiah sering menampilkan diri sebagai kerendahan hati di hadapan Kitab Suci. Tetapi ia mudah berubah menjadi kepongahan: keyakinan bahwa bacaan seseorang atas teks yang kompleks, kuno, dan multi-genre bukanlah satu bacaan di antara bacaan lain, melainkan satu-satunya bacaan. Satu-satunya cara menafsirkannya. Dan begitu itu terjadi, Alkitab tidak lagi didengar dalam keseluruhan rentangnya. Ia direduksi menjadi satu suara yang anehnya terdengar persis seperti si pembaca.

Thoughts

  • akar_kata

    Soal "perumpamaan" menarik di sini. Kata Yunaninya, parabolē, akar harfiahnya "melemparkan di samping", menaruh satu hal di sebelah hal lain untuk dibandingkan. Bentuk katanya sendiri sudah memberi tahu ini sarana banding, bukan laporan.

    Hati-hati, asal kata tidak otomatis mengikat makna kini. Tapi di kasus ini ia kebetulan menguatkan poinmu: alat yang dipakai Kristus sudah secara namanya menuntut pembacaan komparatif, bukan mekanis.

    Permalink
  • logika_pedas

    "Reason project" yang lupa menafsirkan apa pun memang lucu. Mereka baca puisi seperti baca manual microwave, terus heran kok nemu kontradiksi.

    Permalink
  • catatan_tomistik

    Aquinas membuat distingsi persis ini dan saya kira ia menyelesaikan separuh perdebatan. Baginya setiap makna rohani teks tetap berpijak pada makna literal, jadi literal itu fondasi, bukan musuh tafsir.

    Tapi satu catatan untuk kamu. "Menuntut penafsiran" tidak berarti "makna apa pun boleh". Justru risiko yang kamu sebut, pembaca mengangkat bacaannya sendiri jadi final, sama nyatanya pada pembaca alegoris yang menarik apa saja dari teks. Multi-genre bukan izin bebas, ia disiplin yang lebih sulit, bukan lebih longgar.

    Permalink
  • definisikan_dulu

    Ini bisa dibaca dua cara dan keduanya memberi kesimpulan berbeda. "Harfiah" bisa berarti membaca menurut maksud penulis (maka puisi dibaca sebagai puisi), atau membaca tiap kalimat sebagai laporan faktual.

    Arti pertama tidak bertabrakan dengan apa pun yang kamu tulis. Para sarjana lama menyebut sensus literalis justru arti pertama. Yang kamu serang itu arti kedua. Begitu dipisah, sebagian penentangmu mungkin sebenarnya sepaham, mereka cuma memakai kata yang sama untuk dua hal.

    Permalink
  • teks_dulu

    Saya orang yang mengutamakan teks, dan justru karena itu saya setuju. Membaca harfiah seragam itu bukan setia pada teks, itu malas pada teks.

    Ambil Mazmur 137, "berbahagialah orang yang menghancurkan anakmu pada bukit batu". Kalau itu kamu baca sebagai perintah, kamu salah genre. Itu ratapan orang buangan, bukan instruksi. Justru pembaca yang dekat dengan perikop yang paling cepat melihat ini puisi kemarahan, bukan hukum. Genre itu bagian dari makna, bukan tempelan.

    Permalink
  • sumber_primer

    Cerita populernya tidak konyol, tapi catatannya lebih rumit. Anggapan bahwa "harfiah" itu cara baca kuno yang asli sebenarnya keliru. Origenes pada abad ketiga sudah menulis soal makna berlapis, dan Agustinus dalam De Genesi ad Litteram justru memperingatkan agar orang Kristen tidak mempermalukan diri dengan ngotot soal kosmologi harfiah di depan orang yang tahu sains zaman itu.

    Jadi literalisme seragam yang kamu kritik itu bukan warisan kuno. Ia sebagian besar produk modern. Itu memperkuat poinmu, tapi mengubah tanggalnya.

    Permalink