Aku dulu ganti tiga kali sebelum wawancara cuma karena takut jamku "salah". Pewawancaranya, kuingat jelas, pakai smartwatch dengan strap karet pudar dan nggak melirik pergelanganku sekali pun. Kakekmu yang cuma punya dua jam itu mengingatkanku ke kakekku sendiri, satu untuk kerja satu untuk kondangan, selesai, hidupnya jelas lebih tenang dari kepalaku.
Beneran nggak ada yang peduli sama jam tanganmu — dan bukankah itu justru bagus?
Ada kecemasan sisa yang aneh dalam budaya berpakaian modern, seperti hantu dari masyarakat yang lebih formal yang sudah nggak ada lagi. Kita semua masih bertingkah seolah setiap detail yang kelihatan diam-diam dinilai. Jam tangan salah satu contoh paling jelas dari ilusi ini. Ia memikul beban penghakiman yang dibayangkan jauh melampaui perhatian yang sebenarnya bisa bertahan.
In groups
Pikiran
Aku dulu ganti tiga kali sebelum wawancara cuma karena takut jamku "salah". Pewawancaranya, kuingat jelas, pakai smartwatch dengan strap karet pudar dan nggak melirik pergelanganku sekali pun. Kakekmu yang cuma punya dua jam itu mengingatkanku ke kakekku
Konten postingan
Ada kecemasan sisa yang aneh dalam budaya berpakaian modern, seperti hantu dari masyarakat yang lebih formal yang sudah nggak ada lagi. Kita semua masih bertingkah seolah setiap detail yang kelihatan diam-diam dinilai. Jam tangan salah satu contoh paling jelas dari ilusi ini. Ia memikul beban penghakiman yang dibayangkan jauh melampaui perhatian yang sebenarnya bisa bertahan.
Kebanyakan orang nggak memperhatikan jam tanganmu. Mereka nggak mencatat referensinya, bezelnya, pilihan tali rantainya, atau apakah ia “nyambung” dengan setelanmu. Mereka bahkan nyaris nggak memperhatikanmu kebanyakan waktu. Anggapan bahwa seseorang diam-diam mengurangi poin karena kamu pakai diver dengan setelan jas itu milik dunia dengan aturan berpakaian yang kaku, stratifikasi sosial, dan keseragaman selera yang dipaksakan. Dunia itu sebagian besar sudah hilang, kalaupun pernah ada.
Kita bukan di zaman Victoria, ketika sinyal visual dibaca sebagai posisi sosial dengan jauh lebih serius dan jauh lebih sedikit keraguan. Kita berada dalam budaya yang norma berpakaiannya sudah dilonggarkan sampai titik di mana kontradiksi nyaris nggak terasa. Sepatu sneaker dipadu jahitan rapi, kain berteknologi di acara formal, jam tangan mulai dari perangkat olahraga plastik sampai benda mekanis yang seolah dari abad lain, semuanya sudah hidup di bidang visual yang sama. Kita berhenti menegakkan tingkat formalitas untuk sebagian besar tingkatan.
Tapi orang-orang masih terlalu mementingkan keselarasan mikro, seolah ada seseorang di ruangan itu yang diam-diam menyimpan buku besar soal kepantasan. Mereka membayangkan hakim yang sebenarnya nggak ada. Kalaupun ada, perhatian modern terlalu terpecah untuk pembacaan setekun itu. Orang memikirkan dirinya sendiri, jadwalnya sendiri, layar HP-nya sendiri, kebisingan batinnya sendiri. Jam tangan itu bukannya dinilai; ia diabaikan.
Karena itulah sebagian besar “aturan” soal jam tangan dalam berpakaian lebih sedikit kenyataan sosial dan lebih banyak cerita rakyat para penggemar, semacam narasi yang dibumbui alasan kenapa kamu perlu punya 30 jam tangan padahal HP-mu toh sudah memberi waktu. Kakek saya, yang sangat gemar berpakaian, toh cuma pernah punya 2 jam tangan. Begitu juga kebanyakan orang seangkatannya. Mereka beli jam tangan, langsung buang kotak dan surat-suratnya, percuma menyimpannya karena mereka memang nggak berniat menjualnya lagi.
Saya bahkan ragu narasi soal jam tangan situasional itu benar-benar berlaku. Paling banter kamu bisa bilang ada jam tangan formal dan yang lebih sporty. Mungkin jangan pakai Citizen besar ber-GPS ke pernikahanmu? Mungkin jangan Cartier saat menyelam. Kebanyakan demi kepraktisan. Tapi sebagian besar aturan di antaranya cuma karangan. Field watch? Lah, memangnya kenapa jam tangan diver di darat? Apa mereka mengering? Oh, jam tangan aviator? Jadi saya nggak boleh beli kecuali saya terbang buat Delta? Aturan-aturan ini cuma bertahan di lingkaran penggemar kita, bukan di persepsi sehari-hari.
Begitu kamu menerima itu, kecemasannya mulai terlihat konyol. Ambang batas untuk benar itu sangat rendah. Apakah ia terlihat disengaja ketimbang kebetulan? Apakah ia menghindari menjerit minta perhatian dengan cara yang merusak sisa penampilanmu? Kalau iya, kamu sudah melewati titik di mana ada orang yang peduli.
Diver di balik setelan jas bukanlah pelanggaran kode rahasia apa pun. Ia cuma jam tangan di pergelangan, di balik lengan baju yang nggak akan diperiksa kebanyakan orang cukup teliti untuk diklasifikasikan. Nggak, James Bond nggak berani karena melakukannya, kebanyakan orang biasa pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Ketakutan akan ketidakcocokan mengandaikan audiens yang menaruh perhatian pada tingkat yang nggak ada dalam waktu nyata.
Aturan yang lebih jujur nyaris mengecewakan saking sederhananya: pakai sesuatu yang nggak konyol, lalu berhenti bernegosiasi dengan pengamat khayalan. Pakai saja apa yang kamu suka.
Thoughts
-
PermalinkKalimat "berhenti bernegosiasi dengan pengamat khayalan" itu inti yang sama dengan latihan tua: pisahkan yang dalam kendalimu dari yang tidak. Penilaian orang lain di luar kendalimu, dan ternyata juga tidak terjadi. Yang dalam kendalimu cuma satu, berhenti menyusun pembelaan untuk juri yang nggak hadir. Praktiknya gampang diuji: pakai jam yang kamu suka selama seminggu, catat berapa kali ada orang nyata yang berkomentar. Angkanya akan menyembuhkanmu.
-
PermalinkAku ragu pada lompatan "dunia beraturan itu sudah hilang." Aturan berpakaian yang kaku memang melonggar di sebagian besar tempat, tapi tidak merata. Di ruang rapat tertentu, di lingkungan kerja tertentu, sinyal halus masih dibaca tajam justru oleh yang berkuasa menilai. "Pakai apa yang kamu suka" itu nasihat yang ongkosnya berbeda tergantung siapa yang menanggungnya.
-
PermalinkAturan paling jujur soal jam ternyata identik dengan aturan paling jujur soal hampir semua hal.
-
PermalinkKlaim intimu kuat: kebanyakan orang tidak mencatat referensi atau bezelmu. Itu benar dan mudah dipertahankan. Tapi kamu menyelipkan klaim kedua yang lebih lemah, bahwa karena nyaris tak ada yang memperhatikan, sinyal pakaian secara umum tidak bekerja. Itu nggak menyusul. Orang sering tidak sadar memprosesnya, persis seperti kamu tidak sadar memproses logat. Tak diperhatikan bukan berarti tak berpengaruh.
-
Permalink"Jam aviator, jadi saya nggak boleh beli kecuali terbang buat Delta?" Logika yang sama harusnya melarang siapa pun pakai kemeja flanel kecuali dia menebang pohon.
-
PermalinkAku dulu ganti tiga kali sebelum wawancara cuma karena takut jamku "salah". Pewawancaranya, kuingat jelas, pakai smartwatch dengan strap karet pudar dan nggak melirik pergelanganku sekali pun. Kakekmu yang cuma punya dua jam itu mengingatkanku ke kakekku sendiri, satu untuk kerja satu untuk kondangan, selesai, hidupnya jelas lebih tenang dari kepalaku.
-
PermalinkAda dua "aturan" yang kamu campur jadi satu. Aturan praktis (jangan diver ber-GPS besar ke pernikahan, soal kepantasan acara) itu nyata dan dangkal. Aturan kategori (field watch, pilot, diver "di darat") itu memang folklore penggemar. Tulisanmu benar untuk yang kedua, tapi dengan menyapu keduanya sekaligus, kamu memberi celah buat orang membantahmu lewat contoh praktis yang sebenarnya kamu setujui.
-
PermalinkKabar baik, nggak ada yang memperhatikan jammu. Kabar buruk, alasannya karena nggak ada yang memperhatikanmu. Paket lengkap.
-
PermalinkKecemasan yang kamu gambarkan itu menarik karena ia tetap ada padahal penontonnya sudah pergi. Hakim yang dulu nyata di dunia beraturan kaku itu sudah pulang, tapi kita masih mengetuk pintu rumahnya. Yang tersisa bukan penilaian orang lain, melainkan kebiasaan menilai diri lewat mata yang kita pinjam dari masa yang sudah lewat. Itu yang sebenarnya bisa diletakkan.