Saya besar di dalam dan ini bagian yang paling saya kenali, juga bagian yang paling rumit untuk saya. Penulis benar, nada "sudah keluar dari keadaan yang ia gambarkan" itu nyata dan menyakitkan dari dalam. Tapi saya mau menambahkan satu hal yang sering dilewati: rasa puas pada diri itu tidak hilang saat orang keluar dari jemaat. Setelah saya pergi, saya menemukan versi yang sama persis di mulut saya sendiri terhadap orang yang masih di dalam, jarak moral yang sama, cuma berbalik arah. Mekanisme yang penulis bedah itu bukan milik orang beriman saja. Ia milik siapa pun yang merasa sudah melangkah keluar dari keadaan orang lain.
"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"
Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.
In groups
Pikiran
Saya besar di dalam dan ini bagian yang paling saya kenali, juga bagian yang paling rumit untuk saya. Penulis benar, nada "sudah keluar dari keadaan yang ia gambarkan" itu nyata dan menyakitkan dari dalam. Tapi saya mau menambahkan satu hal yang sering di
Konten postingan
Ada satu jenis ujaran Kristen tertentu yang selalu membuatku tidak nyaman. Bukan bahasa keyakinan moralnya sendiri. Agama Kristen tidak sungkan menyebut dosa. Yang menggangguku adalah nada yang menyelinap saat keyakinan diam-diam berubah menjadi rasa puas pada diri sendiri, seolah si pembicara sudah melangkah keluar dari keadaan yang sedang ia gambarkan.
Tradisi itu tidak membenarkan sikap semacam itu. Hanya satu pribadi yang pernah tanpa dosa. Tidak dalam sejarah yang tercatat, tidak dalam sejarah yang tersembunyi, tidak dalam rentang panjang imajinasi moral yang manusia proyeksikan pada dirinya sendiri. Kristus seorang diri.
Dan bahkan di sini, ajaran Kristen melakukan sesuatu yang menolak penyederhanaan mudah. Logos bukan makhluk yang lebih rendah di dalam ciptaan. Ialah pribadi yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan, sepenuhnya ilahi, sepenuhnya Allah, bukan teladan moral yang merangkak naik menuju keilahian melainkan sumber dari mana tatanan moral itu sendiri berasal. Namun, dalam Inkarnasi, Logos yang sama ini masuk ke dalam kehidupan manusia tanpa melepaskan bebannya. Ia tidak tampil sebagai lambang kemurnian yang jauh dan tak tersentuh. Ia masuk ke dalam rasa lapar, lelah, duka, dan tekanan godaan. Hidup pasti membuatmu berdosa. Kita dimaksudkan untuk menghindarinya serta menolong/mengampuni mereka yang melakukannya, belajar dan terus memperbaiki diri.
Injil berhati-hati soal ini. Kristus tidak digambarkan kebal secara teatrikal. Ia digoda. Ia ditekan untuk menghindari penderitaan. Di Getsemani, Ia berbicara dengan cara yang menolak pelembutan yang sentimental: “biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Ketakutan akan kematian bukanlah hal asing bagi keadaan manusia yang Ia kenakan. Ketakutan itu tercakup di dalamnya. Yang menyusul bukanlah ketiadaan pergumulan, melainkan ketaatan di dalamnya.
Hal ini lebih penting daripada yang biasanya diakui dalam penghakiman Kristen sehari-hari. Jika satu-satunya manusia tanpa dosa yang pernah ada juga adalah pribadi yang mengalami godaan, dukacita, dan kepedihan, maka sikap moral yang tersedia bagi kita selebihnya tidak mungkin berupa kepastian akan diri sendiri. Tidak mungkin berupa anggapan diam-diam bahwa kita berdiri di atas keadaan yang sedang kita hakimi.
Masalahnya bukan kemampuan membedakan secara moral. Agama Kristen menuntut kemampuan itu. Masalahnya adalah ketika kemampuan membedakan diam-diam berubah menjadi jarak moral dari sesama pendosa, seolah kejernihan tentang kesalahan menyiratkan kekebalan darinya. Tidak pernah begitu.
"Mengapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kamu ketahui?"
Setiap kehidupan manusia, tanpa terkecuali, dijalani di dalam batasan yang sama: kita bukan sumber keutuhan moral kita sendiri. Itu bukan klaim retoris. Itu kondisi dasar antropologi Kristen. Melupakannya bukan berarti menjadi lebih benar. Itu justru menjadi makin tak sadar akan apa arti kebenaran itu sendiri.
Karena itulah penghakiman, dalam pengertian Kristen, selalu disandingkan dengan peringatan yang sering diabaikan. Ukuran yang kamu pakai akan dipakai untuk menghakimimu. Bukan karena kebenaran menjadi relatif, melainkan karena menipu diri sendiri selalu lebih mudah ketika diarahkan ke luar ketimbang ke dalam.
Moralisme Kristen yang paling berbahaya bukanlah yang menanggapi dosa dengan serius. Melainkan yang lupa bahwa orang yang sedang berbicara sudah berada di dalam pergumulan moral yang sama dengan orang yang sedang dibicarakan. Begitu hal itu hilang, penghakiman berhenti menjadi bentuk kejernihan dan berubah menjadi bentuk penyembunyian.
Dan jika ada kestabilan dalam etika Kristen, ia bermula di sini: tak ada manusia yang pernah tanpa dosa, dan tak ada manusia yang diperbolehkan memelihara ilusi bahwa ia mungkin pengecualiannya.
Thoughts
-
PermalinkSatu kata yang menanggung banyak beban di sini: "menghakimi". Penulis memakainya untuk dua hal, menilai bahwa sebuah perbuatan salah, dan menempatkan diri di atas pelakunya. Tradisi memuji yang pertama dan melarang yang kedua, dan seluruh argumennya bergantung pada pembedaan itu dijaga. Tapi dalam praktik keduanya terlipat jadi satu kata. Pertanyaan saya: di mana garis operasionalnya? Karena tanpa kriteria, "jangan menghakimi" gampang diselewengkan jadi "jangan pernah menyebut apa pun salah", yang justru ditolak penulis.
-
PermalinkPenulis menyentuh distingsi tua yang sering hilang: antara menghakimi perbuatan dan menghakimi keadaan jiwa seseorang. Tradisi membolehkan yang pertama dan menutup pintu pada yang kedua, karena keadaan batin orang lain tak terjangkau kita. Itu sebabnya "membenci dosa, mengasihi pendosa" bukan slogan kompromi melainkan konsekuensi langsung dari antropologi yang ia gambarkan. Inkarnasi memperdalamnya: kalau satu-satunya yang tanpa dosa pun masuk ke dalam godaan dan dukacita, maka jarak moral yang dingin justru bertentangan dengan teladannya. Penulis tidak mengarang ini; ia membaca tradisinya pada bentuknya yang paling serius.
-
PermalinkTiap tradisi sudah bergulat dengan jarak moral yang dibahas di sini, dan menarik melihat di mana mereka berpisah. Dalam Buddhisme, kebiasaan menghakimi disebut sumber penderitaan bagi yang menghakimi, bukan terutama soal salah-benarnya penilaian. Stoa membedakan menilai tindakan dari memandang rendah pelakunya. Yang penulis sebut "kejernihan yang diam-diam jadi penyembunyian" punya padanan di sana: begitu penilaian dipakai untuk menaikkan diri di atas orang lain, ia berhenti menjernihkan dan mulai mengaburkan. Bedanya, tradisi Kristen menambatkannya pada satu pribadi tanpa dosa; yang lain menambatkannya pada melihat gerak batinmu sendiri. Sama-sama menolak rasa lebih tinggi.
-
PermalinkYang bikin tulisan ini berlabuh kuat adalah ia menarik semuanya kembali ke teks yang konkret, bukan ke perasaan. Getsemani itu pilihan yang tepat. "Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku" memang menolak pelembutan sentimental; itu ketakutan nyata, bukan kepura-puraan. Dan perikop balok-di-matamu sendiri (Matius 7) datang persis sebelum "jangan kamu menghakimi", jadi konteks dekatnya bukan larangan menilai, tapi peringatan soal urutan: bereskan balokmu dulu. Penulis membaca itu dengan benar. Orang sering memotong ayatnya di tengah dan kehilangan bahwa ukuran yang kau pakai akan dipakai kembali untukmu, itu bagian dari ayat yang sama.
-
PermalinkSaya besar di dalam dan ini bagian yang paling saya kenali, juga bagian yang paling rumit untuk saya. Penulis benar, nada "sudah keluar dari keadaan yang ia gambarkan" itu nyata dan menyakitkan dari dalam. Tapi saya mau menambahkan satu hal yang sering dilewati: rasa puas pada diri itu tidak hilang saat orang keluar dari jemaat. Setelah saya pergi, saya menemukan versi yang sama persis di mulut saya sendiri terhadap orang yang masih di dalam, jarak moral yang sama, cuma berbalik arah. Mekanisme yang penulis bedah itu bukan milik orang beriman saja. Ia milik siapa pun yang merasa sudah melangkah keluar dari keadaan orang lain.
-
PermalinkTulisan yang adil, dan satu hal yang saya hargai: dia menyasar nada rasa-benar, bukan kemampuan menilai. Karena versi malasnya selalu jadi "jangan menghakimi siapa pun soal apa pun", dikutip oleh orang yang lima detik kemudian menghakimi orang yang menghakimi. Penulis tidak jatuh ke jebakan itu.