Loading…

Ku pijak kan kaki di atas tumpukan duri

juhzunrer
Publik 4 percakapan 11 pikiran 1 suara positif 0 suara negatif 0 seri

In groups

Pikiran

Pikiran

bunda_di_teras

Saya ndak setuju kalau kamu yang disebut kesalahan. Yang salah itu orang dewasa yang masih sempat berbisik-bisik di acara keluarga sendiri. Di tempat saya juga ada yang begitu, saya sudah berhenti ikut arisannya.

Saya ndak setuju kalau kamu yang disebut kesalahan. Yang salah itu orang dewasa yang masih sempat berbisik-bisik di acara keluarga sendiri. Di tempat saya juga ada yang begitu, saya sudah berhenti ikut arisannya.

Konten postingan

null
null

Ku pijak kan kaki di atas tumpukan duri.

Langkahku begitu mantap. Ku kokohkan hatiku menuju ke tempat 'itu'.

Bijakan pertama yang ku tempuh ke dalamnya, disambut tatapan hina dari saudara-saudara. Memang salahku, yang memaksa hadir di tempat yang memang tidak pernah menerima atau bahkan 'menganggap' kehadiranku sebagai manusia.

Bisikan, hinaan, bahkan ejekan sudah menjadi luka dari pisau tajam yang ku terima setiap kali menginjak kan kaki di sini.

Mereka menganggapku sebagai kesalahan, masalah, dan manusia paling salah di antara semuanya.

"Anak haram tidah tahu malu"

"Dasar anak haram"

"Suatu saat pasti dia akan mengikuti jejak ibu nya, hamil di luar nikah! hahaha!"

Celetukan mereka begitu lirih, menertawakanku dengan cerih. Bisikan mereka begitu rendah, mungkin agar tidak terdengar.

Namun, udara terus menghantarkan tiap suara dengan setia. terkadang aku selalu ingin menjadi tuli agar tidak mendengarnya.

Iya, benar. Aku memang anak haram. Anak yang lahir dari sebuah kesalahan, dan kini menjadi sumber yang selalu disalahkan.

Aku tidak meminta untuk lahir seperti ini. Tidak ada yang memilih lahir dari siapa atau dari apa. Aku hanya mengikuti alur yang sudah tersusun.

Terkadang aku menghujat tuhan atas apa yang Aku terima. Namun menyalahkan tuhan tidak membuatku lepas dari sangkar ini.

Berkali-kali aku berdamai dengan nasib. Berlama-lama Aku memendam semua ketakutan untuk mencoba berdiri tegap. Aku selalu berusaha sekuat tenaga, namun mengapa usahaku selalu dicela?

Aku hanya punya diri sendiri. Melakukan semuanya dengan kedua kaki ku sendiri. Mencoba tegar disaat namaku menjadi bahan tertawaan. Meringkuk tubuhku saat orang lain hanya bisa mencela ku.

Thoughts

  • bunda_di_teras

    Saya ndak setuju kalau kamu yang disebut kesalahan. Yang salah itu orang dewasa yang masih sempat berbisik-bisik di acara keluarga sendiri. Di tempat saya juga ada yang begitu, saya sudah berhenti ikut arisannya.

    Permalink
  • Ratih_Puspa

    Yang nempel di saya bagian kamu bilang tidak minta lahir seperti ini. Di kampung saya dulu ada anak yang dipanggil begitu terus sampai akhirnya pindah sekolah, ibunya jualan di pasar dan tiap hari dengar juga. Saya waktu itu masih kecil dan ikut diam saja. Di sana masih ada nggak orang yang mau dengar cerita kamu?

    Permalink
  • mampirBentar

    bagian pengen jadi tuli biar gak kedengeran itu nyantol banget di gue

    Permalink
  • dwi_tanya_terus

    Aku nggak tahu harus bilang apa soal ini. Tempat 'itu' yang kamu tulis, kamu masih harus ke sana tiap tahun?

    Permalink
  • pak_de_cerita

    Saya ndak paham tulisan model begini nggih, tapi bagian disambut tatapan waktu masuk itu saya kenal. Dulu di kampung saya ada anak namanya Yanto, ibunya pulang dari kota sudah dalam keadaan hamil. Tiap sore anak itu main di depan bengkel bapak saya, ndak pernah mau masuk halaman orang lain. Bapak saya cuma ngasih dia palu kecil sama paku bengkok, disuruh mukulin biar lurus lagi. Betah dia berjam-jam.

    Permalink
  • IntanKarlina

    Bagian tatapan dari saudara sendiri itu yang bikin aku berhenti sebentar. Aku dibesarkan nenek, dan tiap lebaran ada tante yang selalu nanya bapakku ke mana. Mukanya masih aku ingat sampai sekarang.

    Permalink
  • Arif_Malam

    Kalimat soal cuma punya diri sendiri itu saya baca dua kali. Saya kerja jaga malam, jadi yang begini biasanya saya baca jam tiga pagi.

    Permalink