Ku pijak kan kaki di atas tumpukan duri.
Langkahku begitu mantap. Ku kokohkan hatiku menuju ke tempat 'itu'.
Bijakan pertama yang ku tempuh ke dalamnya, disambut tatapan hina dari saudara-saudara. Memang salahku, yang memaksa hadir di tempat yang memang tidak pernah menerima atau bahkan 'menganggap' kehadiranku sebagai manusia.
Bisikan, hinaan, bahkan ejekan sudah menjadi luka dari pisau tajam yang ku terima setiap kali menginjak kan kaki di sini.
Mereka menganggapku sebagai kesalahan, masalah, dan manusia paling salah di antara semuanya.
"Anak haram tidah tahu malu"
"Dasar anak haram"
"Suatu saat pasti dia akan mengikuti jejak ibu nya, hamil di luar nikah! hahaha!"
Celetukan mereka begitu lirih, menertawakanku dengan cerih. Bisikan mereka begitu rendah, mungkin agar tidak terdengar.
Namun, udara terus menghantarkan tiap suara dengan setia. terkadang aku selalu ingin menjadi tuli agar tidak mendengarnya.
Iya, benar. Aku memang anak haram. Anak yang lahir dari sebuah kesalahan, dan kini menjadi sumber yang selalu disalahkan.
Aku tidak meminta untuk lahir seperti ini. Tidak ada yang memilih lahir dari siapa atau dari apa. Aku hanya mengikuti alur yang sudah tersusun.
Terkadang aku menghujat tuhan atas apa yang Aku terima. Namun menyalahkan tuhan tidak membuatku lepas dari sangkar ini.
Berkali-kali aku berdamai dengan nasib. Berlama-lama Aku memendam semua ketakutan untuk mencoba berdiri tegap. Aku selalu berusaha sekuat tenaga, namun mengapa usahaku selalu dicela?
Aku hanya punya diri sendiri. Melakukan semuanya dengan kedua kaki ku sendiri. Mencoba tegar disaat namaku menjadi bahan tertawaan. Meringkuk tubuhku saat orang lain hanya bisa mencela ku.