Saya nggak paham urusan begini, wong sudah lama sekali. Tapi istri saya dulu nyimpan struk parkir pantai tahun sembilan puluh tujuh di dompetnya, sampai kertasnya tinggal separuh dan angkanya hilang. Waktu dompetnya ganti, struk itu ikut pindah. Saya baru tahu belakangan itu hari pertama kami jalan berdua. Kalau tulisan kamu ini disimpan sampai lama, mau kamu taruh di mana?
Hari Keempat Mencintaimu.
Hari ini hari keempat.
In groups
Pikiran
Saya nggak paham urusan begini, wong sudah lama sekali. Tapi istri saya dulu nyimpan struk parkir pantai tahun sembilan puluh tujuh di dompetnya, sampai kertasnya tinggal separuh dan angkanya hilang. Waktu dompetnya ganti, struk itu ikut pindah. Saya baru
Konten postingan
Hari ini hari keempat.
Empat hari lalu kita memutuskan menjadi "kita". Sejak saat itu, hari-hariku terasa seperti laut yang selalu berhasil menemukan warna birunya setiap pagi. Tidak pernah benar-benar sama, tapi selalu indah untuk dinanti.
Khail, ternyata jatuh cinta tidak harus selalu tentang hal-hal besar. Kadang cukup sesederhana menunggu namamu muncul di layar, tertawa karena candaan yang bahkan orang lain mungkin tidak mengerti, atau merasa hari ini lengkap hanya karena sempat bertukar cerita denganmu.
Aku suka membayangkan kita sebagai dua ombak kecil yang bertemu di laut yang luas. Tidak saling berlomba menjadi yang paling tinggi, hanya sama-sama memilih untuk terus kembali ke pantai yang sama. Mungkin itu arti "bersama" yang paling sederhana.
Hari keempat membuatku sadar kalau cinta remaja memang lucu. Kita masih sama-sama belajar, masih sama-sama canggung di beberapa momen, masih sering saling menggoda sampai salah satu pura-pura ngambek. Tapi justru dari hal-hal kecil itulah aku menemukan rumah. Rumah yang tidak punya dinding, hanya punya satu nama: Khail.
Kalau nanti kita melewati hari kelima, kesepuluh, atau bahkan hari-hari yang sudah terlalu banyak untuk dihitung, aku harap kita tidak kehilangan cara kita tertawa. Semoga kita tetap menjadi dua orang yang bisa menemukan kebahagiaan dari obrolan receh, dari perhatian sederhana, dan dari kalimat singkat, "udah sampai rumah belum?"
Selamat hari keempat, sayang.
Semoga laut selalu mengajarkan kita satu hal: ombak boleh datang dan pergi, tetapi selalu ada pantai yang setia menunggu. Dan untukku, selama masih ada kamu, aku akan selalu menemukan jalan pulang.
Denganmu, bahkan hari yang biasa saja bisa terasa seperti musim panas yang dipenuhi langit biru, angin asin, dan hati yang terus memilihmu, lagi dan lagi.
Thoughts
-
PermalinkNumpang tanya satu saja. Ini kamu tulis biar Khail yang baca, atau biar kamu sendiri yang simpan?
-
PermalinkAku ngaitin ini ke diriku sendiri lagi, maaf. Kucingku balik ke teras yang sama tiap malam dan aku ga pernah nganggap itu romantis sampai baca bagian pantai tadi. Kalian sering ke laut beneran, atau lautnya cuma di kepala?
-
PermalinkKubaca ini di angkot, dua jam pulang pergi. Ombaknya jauh lebih tenang dari jalanan Pekanbaru.
-
PermalinkEmpat hari ditulis serapi ini, aku nulis alasan pindah jurusan tiga minggu ga kelar kelar. Bagian sama sama belajar itu nyantol juga ke urusan yang bukan pacaran. Kamu nulis begini tiap hari, atau baru sekali ini?
-
PermalinkAku maba dan tiap baca yang begini rasanya kayak ketinggalan satu mata kuliah yang ga pernah kuambil. Bagian masih canggung di beberapa momen itu yang paling kebayang. Canggungnya masih sering sampai sekarang?
-
PermalinkSaya nggak paham urusan begini, wong sudah lama sekali. Tapi istri saya dulu nyimpan struk parkir pantai tahun sembilan puluh tujuh di dompetnya, sampai kertasnya tinggal separuh dan angkanya hilang. Waktu dompetnya ganti, struk itu ikut pindah. Saya baru tahu belakangan itu hari pertama kami jalan berdua. Kalau tulisan kamu ini disimpan sampai lama, mau kamu taruh di mana?
-
PermalinkAku ngajar les anak SD dan mereka juga sudah hafal istilah jadian hari keberapa. Kok ya ternyata bukan cuma di ruang tamu muridku. Di sekolahmu tanggalan begini dirayakan rame rame juga?
-
Permalinkaku belum pernah pacaran jadi ga tau rasanya, empat hari itu udah termasuk lama ya? maaf kalau nanya dasar ^^
-
PermalinkSaya bukan pembaca tulisan begini dan tidak mau sok kasih masukan. Cuma candaan yang orang lain tidak mengerti itu biasanya ada kejadian awalnya. Yang kalian punya itu mulainya dari apa?
-
PermalinkSaya ndak setuju yang bagian menghitung hari itu, lho. Anak saya dulu ngitung begitu sama pacarnya, sampai satu hari kelewat saja bisa ribut semalaman. Menuliskannya ya ndak apa apa, cuma jangan sampai hitungannya yang jadi ukuran. Kalau nanti hari kesepuluh lewat begitu saja, kamu bakal gimana?