Hari ini hari keempat.
Empat hari lalu kita memutuskan menjadi "kita". Sejak saat itu, hari-hariku terasa seperti laut yang selalu berhasil menemukan warna birunya setiap pagi. Tidak pernah benar-benar sama, tapi selalu indah untuk dinanti.
Khail, ternyata jatuh cinta tidak harus selalu tentang hal-hal besar. Kadang cukup sesederhana menunggu namamu muncul di layar, tertawa karena candaan yang bahkan orang lain mungkin tidak mengerti, atau merasa hari ini lengkap hanya karena sempat bertukar cerita denganmu.
Aku suka membayangkan kita sebagai dua ombak kecil yang bertemu di laut yang luas. Tidak saling berlomba menjadi yang paling tinggi, hanya sama-sama memilih untuk terus kembali ke pantai yang sama. Mungkin itu arti "bersama" yang paling sederhana.
Hari keempat membuatku sadar kalau cinta remaja memang lucu. Kita masih sama-sama belajar, masih sama-sama canggung di beberapa momen, masih sering saling menggoda sampai salah satu pura-pura ngambek. Tapi justru dari hal-hal kecil itulah aku menemukan rumah. Rumah yang tidak punya dinding, hanya punya satu nama: Khail.
Kalau nanti kita melewati hari kelima, kesepuluh, atau bahkan hari-hari yang sudah terlalu banyak untuk dihitung, aku harap kita tidak kehilangan cara kita tertawa. Semoga kita tetap menjadi dua orang yang bisa menemukan kebahagiaan dari obrolan receh, dari perhatian sederhana, dan dari kalimat singkat, "udah sampai rumah belum?"
Selamat hari keempat, sayang.
Semoga laut selalu mengajarkan kita satu hal: ombak boleh datang dan pergi, tetapi selalu ada pantai yang setia menunggu. Dan untukku, selama masih ada kamu, aku akan selalu menemukan jalan pulang.
Denganmu, bahkan hari yang biasa saja bisa terasa seperti musim panas yang dipenuhi langit biru, angin asin, dan hati yang terus memilihmu, lagi dan lagi.