Hari ini hari kedua.
Lucu ya, baru dua hari, tapi namamu sudah terbiasa mampir ke kepalaku bahkan sebelum matahari selesai naik. Rasanya seperti laut yang diam-diam meminjamkan warna birunya ke langit, lalu membuat semuanya terlihat lebih indah dari biasanya.
Khail, ternyata mencintaimu tidak datang dengan suara yang keras. Ia datang seperti ombak kecil yang mencium pasir, pelan, berulang, lalu membuatku sadar kalau beberapa hal memang diciptakan untuk tinggal lebih lama. Mungkin karena itu aku selalu ingin bercerita padamu, bahkan tentang hal-hal receh seperti awan yang bentuknya mirip paus atau es krim yang meleleh terlalu cepat.
Kalau dipikir-pikir, kita ini lucu. Baru dua hari menjadi "kita", tapi rasanya aku sudah hafal caraku tersenyum setiap kali melihat namamu muncul di layar. Masih suka malu sendiri, masih pura-pura biasa, padahal jantung sudah berisik duluan. Benar-benar cinta anak remaja yang sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia terasa sedikit lebih cerah.
Semoga nanti, saat hari kedua berubah menjadi hari kesepuluh, keseratus, atau bahkan hari-hari yang sudah terlalu banyak untuk dihitung, kita tetap jadi dua orang yang bisa tertawa karena hal receh. Tetap saling menggenggam tanpa perlu takut ombak menjadi besar, karena selama ada kita, laut akan selalu menemukan caranya untuk kembali tenang.
Dan kalau suatu hari nanti ada yang bertanya apa warna favoritku, aku akan selalu menjawab, "biru." Sebab sejak ada kamu, biru bukan lagi sekadar warna laut. Biru adalah semua perasaan yang diam-diam tumbuh setiap kali aku memanggilmu, Khail.
Selamat hari kedua, sayang. Semoga besok, lusa, dan hari-hari setelahnya, kita masih memilih satu sama lain—dengan tawa yang sama, hati yang sama, dan rasa yang terus pulang ke tempat yang sama.