"Ayah nggak bisa jemput kamu. Naik ojek aja, udah ayah transfer"
tutt...
Suara telepon putus terdengar begitu nyaring. Dengan cepat, mataku tertuju pada layar ponsel, baterai yang hanya tersisa 5%. Jam sudah berada pada pukul 16.56, yang artinya sebentar lagi akan jadi jam 5 sore.
Tanganku menyimpan ponsel dalam genggamanku ke dalam ransel. Kedua telapak saling bergosok, kemudian bersembunyi ke dalam lekukan saku. Udara dingin begitu menusuk, bak menerobos kulit hingga sampai ke tulang.
Aku mendudukkan tubuh lelahku di bawah naungan halte bus pinggir jalan. Air terus mengalir deras, mengguyur jalanan kota hingga basah. Aku terpaku pada rintik hujan yang kian kencang. Suara gemuruh petir terus bergema pada langit pekat. Hatiku sampai terasa seperti ikut tersambar.
Aku menunggu hujan reda dengan setia. Karena, tidak mungkin ada ojek online yang mau mengantar di tengah hujan deras seperti ini.
Kian lama aku menunggu, bibirku menjadi pucat biru akibat dinginnya udara. Perutku berbunyi nyaring, rasa lapar menggerogoti. Aku diam dalam riuhnya hujan. Waktu terus berlalu dan aku masih menunggu.
Langit mulai gelap, dan air masih luruh ke bumi. Aku merasa putus asa. Kesabaranku mulai habis untuk menunggu.
Kakiku berdiri, tubuhku beranjak dari tempat duduk. Mataku melihat sekitar, celingukan mencari celah. Dalam benakku, hanya berlari menerobos hujan lah solusi hari ini.
Saat ku rasa mulai sedikit reda, aku bersiap berlari. Langkah demi langkah, senti hingga meter ku lewati. Aku mulai berlari menyusuri trotoar pinggir jalan untuk pulang.
Sampai pada depan toko kopi, hujan kembali deras. Aku kelimpungan mencari tempat berteduh. Hingga, ada satu orang yang menghampiriku.
"Pakai payungku dulu, rumahku deket sini kok" Suaranya begitu lembut. tingginya lebih banyak dariku, aku mendongak menghadapnya. Mataku terpaku pada parasnya yang begitu teduh. Matanya begitu indah. Hatiku berdegup cepat saat menatap wajahnya.
"Hei" Panggilnya lagi.
Aku menatapnya dengan lamat, sampai tidak sadar bahwa orang itu berbicara denganku.
Tanganku segera meraih uluran payung itu.
"Makasih!"
Dia segera berbalik, berlari dan pergi. Aku menatap punggungnya yang kian terkikis jarak. Sampai, aku ikut berlari dengan payung yang dia berikan untuk pulang.
"Aku menyukainya" Gumamku.