Hari ini hari ketiga belas.
Tiga belas hari.
Angka yang katanya kadang dianggap aneh, tapi entah kenapa justru terasa manis kalau aku menghitungnya sebagai jumlah hari sejak aku dan kamu menjadi kita.
Tiga belas hari sejak namamu punya tempat baru di hidupku.
Dan semakin hari, aku semakin sadar kalau mencintaimu ternyata tidak selalu terasa seperti sesuatu yang besar. Kadang ia cuma berupa senyum kecil ketika melihat namamu. Kadang berupa keinginan untuk mengirim sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Kadang cuma ingin bilang, “Khail, lihat deh,” lalu menunjukkan hal paling random yang kutemukan hari itu.
Mungkin begitulah kita.
Sedikit aneh. Sedikit berisik. Sedikit menyebalkan. Tapi entah kenapa selalu menyenangkan.
Aku suka cara kita mulai punya kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan mungkin tidak kita sadari. Cara kita saling mencari di tengah hari, cara satu candaan bisa berubah menjadi obrolan panjang, atau cara kita bisa saling mengganggu lalu tetap kembali bicara seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Kalau cinta adalah laut, mungkin aku tidak ingin menjadi kapal yang buru-buru mencari ujungnya.
Aku ingin jadi dua orang yang duduk di pinggir pantai, membiarkan kaki terkena ombak, lalu tertawa ketika airnya datang terlalu jauh.
Tidak perlu tahu besok akan seperti apa.
Hari ini saja sudah cukup indah.
Karena hari ini ada kamu.
Dan mungkin besok juga ada kamu.
Semoga begitu.
Selamat hari ketiga belas, Khail.
Tiga belas hari mungkin masih terlalu sedikit untuk menyebut sebuah cerita panjang.
Tapi cukup untuk membuatku ingin terus menulis halaman berikutnya.
Dengan lebih banyak tawa. Lebih banyak cerita receh. Lebih banyak momen kecil yang cuma kita yang mengerti.
Dan kalau nanti kita sampai pada hari keseratus, semoga kita masih bisa melihat kembali hari ketiga belas ini dan tersenyum.
Karena ternyata, dari semua hal yang bisa terjadi di dunia,
salah satu hal favoritku adalah menemukan kamu di dalamnya.
Hari ini, aku masih mencintaimu.
Dan besok—
aku akan bertemu denganmu lagi di halaman berikutnya.