Loading…

Hari Kedua Belas Mencintaimu.

Swaru
Publik 8 percakapan 16 pikiran 18 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Hari ini hari kedua belas.

In groups

Konten postingan

Hari ini hari kedua belas.

Dua belas hari. Kalau dihitung dari kalender, mungkin tidak terdengar seperti waktu yang panjang. Tapi kalau dihitung dari berapa kali aku tersenyum karena kamu, rasanya dua belas hari itu sudah penuh sekali.

Khail, ada sesuatu yang berubah sejak hari pertama.

Bukan karena rasa ini menjadi lebih besar dengan cara yang heboh. Justru sebaliknya—ia tumbuh dengan tenang. Pelan-pelan masuk ke sela-sela hariku sampai aku tidak lagi sadar kapan tepatnya kamu mulai terasa seperti bagian dari keseharian.

Sekarang, kalau ada sesuatu yang lucu, aku ingin mengirimkannya kepadamu. Kalau ada cerita kecil, kamu yang ingin kuceritakan duluan. Kalau hari terasa panjang, entah kenapa rasanya akan sedikit lebih pendek setelah mendengar kabarmu.

Kamu seperti lagu yang awalnya hanya kudengar sekali, lalu tiba-tiba sudah hafal bagian favoritnya.

Dan mungkin bagian favoritku adalah ketika kita bisa menjadi dua orang paling aneh di dunia tanpa perlu merasa malu.

Kita bisa bercanda soal hal yang tidak penting, saling mengejek, lalu beberapa menit kemudian berubah jadi manis lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kadang aku bahkan bertanya-tanya, bagaimana bisa satu orang membuatku kesal dan senang dalam waktu yang hampir bersamaan?

Jawabannya mungkin sederhana:

karena itu kamu.

Hari kedua belas ini juga membuatku sadar bahwa aku tidak ingin terburu-buru.

Aku ingin menikmati semuanya.

Ombak kecilnya. Tawa recehnya. Saltingnya. Obrolan panjangnya. Bahkan hari-hari biasa yang mungkin tidak punya cerita istimewa.

Karena ternyata, ketika bersamamu, hari biasa pun bisa menjadi sesuatu yang ingin kusimpan.

Kalau dua belas hari ini adalah dua belas halaman, aku tidak ingin menebak akhir bukunya. Aku hanya ingin terus membalik halaman berikutnya dan melihat cerita apa yang menunggu kita di sana.

Mungkin besok ada tawa baru.

Mungkin ada cerita random yang sama sekali tidak penting.

Mungkin ada satu pesan sederhana darimu yang lagi-lagi membuatku senyum seperti orang bodoh.

Dan aku tidak keberatan.

Selamat hari kedua belas, Khail.

Dua belas hari sudah berlalu, dan aku masih menemukanmu sebagai salah satu hal paling menyenangkan dalam hariku.

Jadi untuk hari ini, aku tidak akan meminta laut membawa kita terlalu jauh.

Cukup tetap di sini.

Di bawah langit yang sama, dengan tawa yang sama, dan hati yang masih sama-sama belajar mencintai.

Karena kalau hari pertama adalah awal dari kita,

maka hari kedua belas adalah pengingat kecil bahwa aku masih senang berada di sini.

Bersamamu.

Thoughts

  • absurdinaja

    Aku juga pengen cerita kayak gini, tapi sampai sekarang belum ketemu orang yang bikin aneh-aneh sama aku wkwk

    Permalink
  • Ratih_Puspa

    Bagian hari biasa jadi istimewa itu, aku rasakan juga setiap hari. Yang menit-menit kecil tapi terus diinget gitu.

    Permalink
  • PakGunawan58

    Terima kasih berbagi. Boleh saya tanya, apakah Khail tahu tentang tulisan ini, atau hanya untuk dirimu sendiri?

    Permalink
  • Nurul92

    Dua belas hari sudah jadi orang paling aneh bersama, pencapaian sih wkwk. Biasanya butuh berbulan-bulan. Kok bisa secepat itu?

    Permalink
  • IntanKarlina

    Nenekku waktu sama kakekku ceritanya sama banget. Bagian tidak ingin terburu-buru itu, berapa lama sudah rasanya kayak gini?

    Permalink
  • Arif_Malam

    Apakah Khail juga menyadari perubahan yang sama? Atau baru kamu yang merasakan hal itu sekarang?

    Permalink
  • pak_de_cerita

    Saya punya cerita yang mirip. Pertama kali bertemu istri tidak ada yang istimewa, tapi minggu-minggu berikutnya saya terus cari alasan untuk bertemu. Sekarang sudah hampir tiga puluh tahun, dan saya masih merasakan begitu setiap pagi ketika melihatnya. Anak-anak kami tanya kenapa bapak masih seperti itu saja.

    Permalink
  • mampirBentar

    Bagian jadi dua orang paling aneh tanpa perlu malu itu, relate parah sama pengalaman gue wkwk

    Permalink