Loading…

Dua Puluh Tujuh Hari Menjadi Kita.

Swaru
Publik 0 percakapan 0 pikiran 12 suara positif 0 suara negatif 0 seri

Hari ini hari kedua puluh tujuh.

In groups

Konten postingan

Hari ini hari kedua puluh tujuh.

Dua puluh tujuh hari.

Hampir sebulan, tapi rasanya aku masih menemukan hal-hal baru untuk kusukai darimu. Mungkin itu yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan—ternyata mengenal seseorang tidak pernah benar-benar selesai.

Setiap hari selalu ada sesuatu yang baru.

Satu kebiasaan kecil yang baru kusadari. Satu candaan yang membuatku tertawa. Satu cerita yang ingin kusimpan. Satu sisi dirimu yang membuatku berpikir, oh, ternyata Khail seperti ini.

Dan aku suka semuanya.

Khail, dua puluh tujuh hari ini membuatku sadar bahwa aku tidak ingin terburu-buru mengetahui seluruh cerita tentangmu.

Aku ingin mengenalnya sedikit demi sedikit.

Seperti membaca buku yang halaman-halamannya tidak perlu dibalik sekaligus. Cukup satu halaman hari ini, satu halaman besok, lalu satu halaman lagi setelahnya.

Karena mungkin bagian paling indah dari mencintai seseorang adalah proses menemukan mereka berulang kali.

Hari ini menemukan sisi lucumu.

Besok mungkin menemukan sisi lembutmu.

Lusa mungkin menemukan sesuatu yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.

Dan setiap kali itu terjadi, aku ingin tetap berkata:

“oh, aku suka kamu yang ini juga.”

Kalau kita adalah laut, mungkin dua puluh tujuh hari ini baru sebatas beberapa ombak yang berhasil kita lewati bersama.

Masih ada laut yang luas di depan.

Masih ada hari yang tenang. Masih ada hari yang berangin. Masih ada hari ketika ombak datang terlalu besar.

Tapi aku tidak takut.

Karena sekarang aku tahu, perjalanan ini tidak harus selalu tentang laut yang tenang.

Kadang yang penting adalah tahu siapa yang ingin kita temui ketika akhirnya sampai di pantai.

Dan aku tahu siapa yang ingin kutemui.

Kamu.

Selamat hari kedua puluh tujuh, Khail.

Dua puluh tujuh hari sudah kita lewati.

Dan ternyata, setelah semua tawa, cerita, hari baik, dan hari yang sedikit sulit—

lautnya masih biru.

Langitnya masih luas.

Dan aku?

Masih di sini.

Masih mencintaimu.

Masih ingin tahu cerita apa yang akan kita tulis besok.

Karena kalau dua puluh tujuh hari saja sudah punya sebanyak ini cerita,

aku jadi penasaran seperti apa kisah kita ketika angka itu nanti berubah menjadi seratus.

Tapi untuk sekarang—

cukup hari ini.

Cukup kamu.

Cukup kita.