Tiga minggu.
Lucu sekali bagaimana tiga minggu yang lalu kita baru saja memulai sesuatu yang sekarang sudah punya begitu banyak cerita. Waktu itu mungkin kita belum tahu akan seperti apa hari-hari setelahnya. Kita cuma tahu satu hal: kita ingin mencoba berjalan bersama.
Dan ternyata, kita masih berjalan sampai hari ini.
Khail, setelah dua puluh satu hari, aku mulai sadar bahwa mencintaimu bukan tentang menemukan satu alasan besar untuk menyayangimu.
Justru aku menemukan ratusan alasan kecil.
Cara kamu membuatku tertawa. Cara namamu bisa tiba-tiba muncul di kepalaku. Cara satu cerita receh darimu bisa membuat hari terasa lebih menyenangkan. Cara aku kadang melihat sesuatu lalu langsung berpikir, “Khail pasti bakal suka ini.”
Hal-hal kecil itu terus bertambah.
Sampai akhirnya aku tidak sadar kapan tepatnya kamu menjadi bagian dari banyak sekali pikiranku.
Mungkin cinta memang seperti laut.
Tidak datang sekaligus.
Ia datang lewat ombak kecil, berkali-kali, sampai tanpa sadar pasir sudah basah seluruhnya.
Begitu juga rasa ini.
Pelan-pelan. Hari demi hari. Tawa demi tawa. Cerita demi cerita.
Sampai hari ini aku berdiri di hari kedua puluh satu dan masih bisa berkata:
aku senang kamu ada.
Aku senang kita menjadi kita.
Dan aku senang bahwa setelah dua puluh satu hari, jawabanku masih sama.
Kamu.
Aku tidak tahu bagaimana hari-hari berikutnya akan berjalan. Mungkin akan ada hari yang sangat menyenangkan, mungkin ada hari yang biasa saja. Mungkin kita akan tertawa sampai lupa waktu, mungkin suatu hari kita hanya punya sedikit waktu untuk berbicara.
Tapi aku ingin percaya bahwa semua itu tetap bagian dari perjalanan.
Karena cinta bukan hanya tentang hari-hari yang indah.
Ia juga tentang dua orang yang terus belajar bagaimana caranya tetap saling menemukan.
Selamat hari kedua puluh satu, Khail.
Tiga minggu sudah berlalu.
Dan kalau seseorang bertanya kepadaku apa yang berubah selama dua puluh satu hari ini, mungkin jawabanku sederhana:
dulu aku hanya punya kamu sebagai seseorang yang kucintai.
Sekarang aku juga punya dua puluh satu hari penuh kenangan kecil bersamamu.
Dan besok, kita akan membuat satu lagi.
Satu hari lagi.
Satu cerita lagi.
Satu alasan lagi untuk tersenyum dan berkata—
ternyata, setelah semua ini,
masih kamu.