Kanon itu suci
Debat peminat, retcon yang mengubah masa lalu cerita, dan penyimpangan daripada karya asalnya.
Discussions
-
Kalau tragedi mengajarkan empati pada anak-anak, bolehkah kematian dianggap enteng dalam cerita?
Menghapus tragedi dari cerita tidak melindungi penonton. Itu menghapus salah satu cara tertua manusia melatih diri merasakan takut, iba, dan kehilangan di dalam bentuk yang bisa dilewati dengan selamat.
-
Benarkah anggaran lebih besar justru merusak serial TV, bukan memperbaikinya?
Sebagian fantasi termahal yang pernah ditayangkan di layar justru terasa lebih hampa dibanding karya-karya bermodal lebih terbatas yang muncul sebelumnya. Bukan karena penonton diam-diam lebih suka yang murahan, melainkan karena kelimpahan adalah pengganti yang buruk untuk pertimbangan dan penceritaan yang baik.
-
Kenapa Batman yang digambarkan "realistis" selalu berakhir jadi simbol fasis?
Premis setiap reboot Batman yang kelam pada dasarnya sama: bagaimana kalau ini kita garap serius dan kita buat realistis? Bagaimana kalau unsur kamp dihilangkan, saturasi warnanya diturunkan, lalu kita tanyakan apa sebenarnya artinya seorang miliarder mengenakan zirah dan menghajar penjahat. Sayangnya, sekalipun niatnya baik, ujung-ujungnya malah jadi pembelaan terhadap fasisme...
-
Kenapa pahlawan lama menginspirasi kita, tapi superhero malah membuat kita merasa lemah?
Pahlawan lama bukanlah jenis makhluk yang berbeda. Ia manusia dalam skala kepahlawanan. Achilles, Odysseus, Heracles: lebih hebat dari kita, tapi terbuat dari bahan yang sama. Bahkan Captain America, Batman, John Wick. Bentuk cerita semacam itu mengundang aspirasi. Sang superhero modern lebih sering mengundang sikap menonton dan rasa tak memadai.