Hari ini hari kesembilan.
Sembilan hari ternyata cukup untuk membuat seseorang terasa seperti bagian kecil dari keseharian. Namamu tidak lagi cuma sesuatu yang membuatku deg-degan; sekarang, namamu juga terasa seperti sesuatu yang kucari ketika ingin bercerita tentang hari ini.
Lucu, ya, Khail.
Kita baru sembilan hari, tapi aku sudah punya banyak hal kecil yang ingin kusimpan. Tawa yang muncul gara-gara candaan receh, obrolan yang awalnya cuma sebentar lalu tiba-tiba panjang, sampai momen ketika aku melihat sesuatu dan refleks berpikir, "ini harus aku ceritain ke Khail."
Mungkin begitulah caranya seseorang perlahan menjadi rumah. Bukan karena ia selalu punya jawaban, bukan karena ia selalu membuat hari sempurna, tetapi karena kehadirannya membuat kita ingin pulang dan berbagi cerita.
Kalau laut punya cara untuk menghitung hari, mungkin ia menghitungnya dari jumlah ombak yang menyentuh pantai. Kalau aku? Aku menghitungnya dari berapa kali hari ini aku tersenyum karena kamu.
Dan jawabannya mungkin terlalu banyak.
Sembilan hari bersamamu membuatku sadar bahwa aku tidak butuh cerita yang megah untuk merasa bahagia. Aku cuma butuh hal-hal kecil yang terasa seperti kita. Tawa yang cuma kita mengerti. Sapaan yang sederhana. Perhatian yang kadang diselipkan di antara candaan. Bahkan diam yang tidak terasa canggung karena aku tahu kamu masih ada.
Jadi kalau besok menjadi hari kesepuluh, aku tidak ingin meminta sesuatu yang besar.
Aku hanya ingin kita tetap menjadi dua orang yang saling menemukan di tengah ramainya hari. Tetap saling mengganggu. Tetap saling membuat kesal lalu tertawa lagi. Tetap menjadi tempat kecil yang nyaman untuk satu sama lain.
Selamat hari kesembilan, Khail.
Sembilan hari mungkin belum cukup untuk menceritakan seluruh kisah kita.
Tapi cukup untuk membuatku tahu satu hal:
aku masih ingin membaca halaman berikutnya bersamamu.
Dan kalau halaman itu ternyata tentang hari kesepuluh, keseratus, atau entah hari keberapa nanti—
aku akan tetap membukanya.
Asalkan namamu masih tertulis di sana.