Dua minggu.
Empat belas hari sejak kita memutuskan untuk menjadi dua orang yang berjalan dengan nama yang sama: kita.
Kalau dipikir-pikir, dua minggu itu sebenarnya tidak terlalu lama. Tapi entah bagaimana, selama empat belas hari ini kamu berhasil menyelipkan begitu banyak hal kecil ke dalam hariku. Tawa, cerita, candaan, perhatian, bahkan momen-momen sederhana yang mungkin akan terlihat biasa bagi orang lain.
Tapi tidak bagiku.
Karena ada kamu di dalamnya.
Khail, mungkin hal yang paling kusukai dari kita adalah bagaimana semuanya terasa begitu ringan. Kita tidak perlu membuat setiap hari menjadi sesuatu yang luar biasa. Kadang cukup saling menyapa, saling mengganggu, lalu tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak masuk akal.
Dan anehnya, aku tidak pernah bosan.
Rasanya seperti laut yang kulihat setiap hari. Warnanya mungkin tetap biru, ombaknya mungkin tetap datang dan pergi, tapi selalu ada sesuatu yang membuatku ingin melihatnya lagi.
Begitu juga kamu.
Setiap hari selalu ada sisi baru yang membuatku berpikir, “oh, ternyata aku makin sayang sama orang ini.”
Dua minggu lalu aku belum tahu akan seperti apa perjalanan kita.
Sekarang aku juga masih tidak tahu.
Tapi aku tidak takut dengan ketidaktahuan itu.
Karena aku tidak ingin buru-buru sampai ke akhir. Aku ingin menikmati jalan kecilnya. Hari-hari biasa. Tawa receh. Obrolan random. Momen ketika salah satu dari kita tiba-tiba bilang sesuatu yang membuat yang lain senyum sepanjang hari.
Aku ingin mengingat semuanya.
Bahkan hal-hal kecil yang mungkin nanti terlupakan.
Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, bukan hal-hal besar yang paling kita rindukan.
Mungkin justru kalimat-kalimat sederhana.
“Udah makan?” “Hari ini gimana?” “Lagi apa?” “Jangan lupa istirahat.” Atau sekadar, “aku di sini.”
Selamat hari keempat belas, Khail.
Dua minggu sudah kita lewati.
Dan kalau empat belas hari pertama ini adalah awal dari perjalanan kita, aku harap masih ada banyak halaman kosong setelahnya yang bisa kita isi bersama.
Tidak perlu sempurna.
Tidak perlu selalu indah.
Asalkan tetap menjadi kita.
Karena ternyata, dari semua tempat yang bisa kutemukan di dunia ini, salah satu tempat paling nyaman adalah percakapan kecil yang selalu membawaku kembali kepadamu.
Hari keempat belas sudah selesai.
Tapi kisah kita belum.
Besok, kita tulis lagi.